14 Februari 2016

Rakuten dan GoPro, Tikus Kedua lah yang Mendapatkan Keju

Ada pemeo "early bird gets the worm" (burung paling awal lah yang mendapatkan cacing). Sangat betul, sang inovator pertama lah yang akan mendapatkan kesempatan pertama untuk menjadi besar.

Hal ini terjadi seperti di kasus Coca-Cola yang menjadi besar setelah memasarkan minuman yang awalnya dibuat untuk menyembuhkan sakit kepala.

Tetapi ada juga pemeo "the second mouse gets the cheese" (tikus kedua lah yang mendapatkan keju). Dan hal ini biasanya terjadi di dunia teknologi.

Contoh paling hangat adalah kejadian Rakuten Belanja Online (Rakuten Indonesia) yang akan tutup pada 1 Maret 2016, dan di dunia global adalah kamera aksi GoPro yang laba dan saham nya 'nyungsep' di awal 2016.

Padahal Rakuten adalah salah satu pelopor e-commerce di Indonesia sebelum booming. Masuk tahun 2011 bekerja sama dengan MNC group namun dua tahun kemudian terjadi konflik dan MNC mengundurkan diri dari Rakuten Belanja Online.

Di dunia perdagangan elektronik (e-commerce) terjadi persaingan yang ketat belakangan ini. BukaLapak dan Tokopedia menyeruak lewat iklan-iklan kreatif. Iklan Bukalapak, Permohonan Maaf CEO Bukalapak.com pada saat Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) menjadi viral karena kelucuannya.

Tokopedia pun tidak mau kalah dengan menampilkan penyanyi muda cantik Isyana Saraswati di iklan Isyana vs. Gangster yang tidak kalah lucunya. Sering ditampilkan di media tayang, pengeluaran iklan Tokopedia pun adalah salah satu yang terbesar di antara e-commerce.

Lain lagi dengan Lazada yang memilih untuk memperkuat basis mereka dengan membuka gudang di kota-kota besar untuk mempercepat pengiriman. Belum lagi revisi Daftar Negatif Investasi (DNI) yang mempersilakan e-commerce besar untuk masuk dengan 100 persen kepemilikan.

Dari segi modal, belakangan e-commerce lokal mulai mendapat pendanaan dari para pemodal ventura asing termasuk angel investor, hal inilah yang membuat mereka bisa jor-joran mengembangkan layanan termasuk iklan.

Sementara Rakuten Belanja Online hanya mengandalkan Rakuten Jepang sebagai pemodalnya. Ditambah lagi dengan kehilangan mitra lokal yang mengerti pasar. Akibatnya Rakuten Belanja Online tidak bisa melakukan penetrasi lebih dalam ke pasar Indonesia.

Kisah GoPro pun mirip, menikmati kejayaan sebagai pelopor kamera aksi dan dipakai para profesional, produk GoPro diburu oleh masyarakat. Padahal harga nya sekitar 400 dolar AS atau hampir Rp 5 juta.

Perusahaan-perusahaan besar lain seperti Toshiba, Sony, dan Panasonic mencoba tetapi GoPro bergeming, tetap ada di atas.

Ancaman ternyata datang dari perusahaan-perusahaan yang lebih kecil, mereka banyak membuat kamera aksi dengan harga setengah dari GoPro. Yang sedang naik daun di Indonesia saat ini adalah Xiaomi Yi dengan harga mengejutkan, hanya Rp 1 juta saja.

GoPro pun kewalahan, penjualan menurun dan menurunkan harga sampai dua kali setahun karena lesunya penjualan. Marjin laba GoPro pun menurun drastis ke 29 persen, padahal perusahaan ini pada 2014 dan 2015 sempat menikmati margin laba kotor yang sangat tinggi hampir 50 persen.



Harga saham GoPro pun menurun signifikan, padahal sejak penawaran perdana di Juni 2014, harga saham GoPro melonjak dari 31,34 dolar AS (26 Juni 2014) ke 93,85 dolar AS pada 7 Oktober 2015. Terakhir (12 Februari 2016) harga saham GoPro hanya 10,31 dolar AS. Apabila tidak berbenah diperkirakan GoPro akan menjadi seperti Twitter yang mulai ditinggal penggunanya dan sampai berulang kali berganti CEO.

Dunia teknologi memang keras dan cepat, setelah masa-masa naik daun yang bergelimang modal bertahan hidup adalah tantangan selanjutnya.

--
Anton Hermansyah

Tidak ada komentar: